Zerotv.id – Banda Aceh – Petugas kesehatan dari Puskesmas Kopelma Darussalam bersama pihak Dinas Kesehatan Aceh melakukan rapid test atas tiga Orang Dalam Pengawasan (ODP) Covid-19 serta keluarga para ODP tersebut. Proses rapid test tersebut dipantau langsung Wakil Ketua Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Aceh, Dyah Erti Idawati.

Dyah mengatakan, rapid test yang dilakukan pihaknya dalam dua hari terakhir ini diharapkan bisa memecahkan fenomena gunung es, di mana pemerintah mencoba menerapkan sistem jemput bola: mengundang ODP untuk tes, dan melakukan tes pada Orang Tanpa Gejala (OTG) yang berkumpul di tempat publik.

“Harapannya jika pun ada kasus bisa segera terdeteksi. Nantinya bisa kita ambil langkah cepat sehingga virusnya tidak akan tersebar lagi,” ujar Dyah, Senin 20/04.

Dyah mengimbau masyarakat Aceh untuk mematuhi anjuran pemerintah yaitu sosial dan psycal distancing. Di mana, dengan itu rantai penyebaran virus dapat dipangkas.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Kopelma Darussalam, dr. Amalia, menyebutkan rapid test bagi pasien ODP yang masuk dalam pantauan itu sangatlah membantu pihaknya.

“Alhamdulillah ini menjawab kegelisahan kami. Hari ini bisa tes untuk ODP dan keluarga mereka,” kata dr. Amalia, Kepala Puskesmas Kopelma Darussalam.

Sampai hari ini, ada 36 ODP yang ditangani oleh Puskesmas Kopelma Darussalam. Tiga di antara mereka masih dalam pantauan dan 33 lainnya telah selesai masa pemantauan.

Selain ODP Covid-19 dan keluarga mereka, petugas kesehatan juga melakukan rapid test bagi dua orang yang dilaporkan pernah berhubungan dengan mahasiswi Malaysia yang dinyatakan positif covid usai pulang dari Aceh juga dites.

Petugas Kesehatan Puskesmas Kopelma Rapid Test ODP Covid-19

*Mahasiswa Asal Malaysia Positif Corona Usai Pulang dari Aceh*

Kepala Dinas Kesehatan Aceh, dr. Hanif, mengatakan pihaknya sudah mengunjungi rumah tempat salah satu mahasiswa asal Malaysia yang positif covid-19, di Gampong Blang Krueng, Baitussalam Aceh Besar.

Hanif sangsi, mahasiswi berinisial NA binti MY, itu terinfeksi di tempat tinggalnya di Blang Krueng. “Teman satu kosnya negatif. Pemilik rumah juga menyampaikan yang bersangkutan hampir tidak pernah keluar rumah. Palingan seminggu sekali keluar berbelanja,” ujar Hanif. Namun demikian, untuk antisipasi pihaknya telah menyemprot disinfektan baik di pekarangan maupun di dalam rumah yang bersangkutan.

“Curiga saya mahasiswi ini terinfeksi di pesawat, atau pun di bandara,” kata Hanif. “Mereka pulang ke Malaysia kan sama-sama dengan positif covid lain. Jadi kami belum bisa melihat daerah itu (tempat tinggal mahasiswi tersebut selama di Aceh) sebagai sumber penularan,” kata Hanif.

Untuk memastikan daerah tempat tinggal positif covid-19 itu, pihak Dinas Kesehatan akan melakukan swab bagi tetangga yang tinggal berdekatan dengan mahasiswi itu.

Hanif menambahkan, pihaknya belum mendeteksi tempat tinggal salah satu mahasiswi lain yaitu NI binti MF di Banda Aceh. Yang bersangkutan saat ini tengah menjalani masa karantina dan tidak bisa dihubungi. Yang pasti pihaknya tengah melakukan penelusuran tempat tinggal bersangkutan.

“Laporannya dia tinggal di Jln. Tgk di Blang Darussalam. Antara dua mahasiswi ini tidak saling kenal, jadi susah kita tracking dia tinggal di mana,” kata dr. Hanif.

Dua mahasiswi Malaysia dari Aceh itu merupakan bagian dari 106 mahasiswa Malaysia yang dipulangkan pemerintah mereka di gelombang ketiga. Keduanya berangkat dari Aceh ke Kualanamu Sumatera Utara pada Kamis 16/04. Dari Sumut mereka berkumpul dengan mahasiswa lainnya. Empat jam transit, mereka diterbangkan ke Kuala Lumpur untuk kemudian diambil swab dan dikarantina di Pusat Karantina di Malaka Malaysia.

Kementerian Kesehatan Malaysia kemudian mengumumkan hasil swab 106 mahasiswa Malaysia itu. Sebanyak 65 dari keseluruhan mahasiswa itu dinyatakan positif covid-19. Sebanyak 43 dari Jawa Timur dan tiga (dua terdeteksi) dari Aceh, satu dari Turki dan satu dari Kalimantan. [fer]